
Saya menonton The Legend of Condor Heroes: The Gallants di Netflix dengan ekspektasi yang sangat rendah. Alasannya sederhana: sebelumnya saya menonton Invincible Swordsman (adaptasi Pendekar Hina Kelana karya Jin Yong juga), dan film itu—terus terang—mengecewakan. Terlalu banyak kekacauan cerita, karakter yang terasa kosong, dan dunia persilatan yang kehilangan logikanya. Maka ketika menonton The Gallants, kesan pertama saya justru: ini jauh lebih baik.
Namun, “lebih baik” bukan berarti tanpa masalah.
Sebagai pembaca cersil Jin Yong, saya cukup terusik sejak awal film, terutama pada soal timeline. Ada adegan ketika Guo Jing bertemu pasukan Mongol dan diperlakukan seperti orang asing, padahal konteks dialognya menunjukkan fase ketika Guo Jing seharusnya sudah lama dikenal oleh bangsa Mongol—masa setelah ia tinggal bertahun-tahun di sana, pergi ke Dataran Tengah, lalu kembali. Ini bukan sekadar pemadatan cerita, tapi pencampuran fase hidup yang membuat relasi antar karakter terasa instan dan kehilangan bobot sejarah.
Masalah lain yang cukup mengganggu adalah penggambaran kekuatan pendekar yang terlalu berlebihan. Racun Barat (Ouyang Feng) digambarkan mampu memporak-porandakan ribuan pasukan Mongol sendirian. Secara visual memang menghibur, tapi secara logika dunia Jin Yong ini problematis. Jika pendekar Dataran Tengah sedemikian “overpowered”, maka muncul pertanyaan sederhana: mengapa Dinasti Song bisa dijajah oleh Jin? Dalam novel, Jin Yong sangat menjaga keseimbangan—pendekar kuat dalam duel, tetapi tetap tak berdaya di hadapan mesin perang dan arus sejarah.
Dari sisi karakter, Guo Jing terasa terlalu matang sejak awal. Di novel, daya tarik Guo Jing justru terletak pada kepolosannya, kelambatannya, dan proses panjang pertumbuhannya. Film ini memotong banyak proses itu. Huang Rong pun kehilangan sebagian kecerdikan ikoniknya; ia lebih sering tampil sebagai pasangan emosional ketimbang otak strategis seperti di cersil. Ouyang Feng juga lebih terasa sebagai “boss final” ketimbang figur tragis yang hancur oleh obsesinya sendiri. Tokoh besar lain seperti Hong Qigong dan Biksu Yideng tampil selintas saja sebagai kilas balik. Memang ini tantangan besar bagi adaptasi film terhadap sebuah cerita yang sangat panjang.
Meski begitu, saya tetap menganggap film ini layak ditonton. The Gallants masih memiliki jiwa wuxia, masih menghormati tema kepahlawanan, pengorbanan, dan dilema moral—sesuatu yang nyaris hilang di Invincible Swordsman. Film ini mungkin bukan adaptasi ideal Jin Yong, tetapi setidaknya ia masih berusaha memahami roh ceritanya.
Kesimpulan saya sederhana: The Legend of Condor Heroes: The Gallants bukan Condor Heroes terbaik, tapi jelas jauh lebih baik daripada Invincible Swordsman. Dan untuk ukuran adaptasi wuxia modern, itu sudah cukup membuat saya duduk sampai akhir tanpa rasa menyesal. []
- Daftar cerita silat Jin Yong lengkap bisa diunduh di SINI.