
Baru saja saya menonton film Dynasty Warriors di Netflix. Film membawa saya kembali ke masa akhir kuliah di tahun 2000-an, saat Dynasty Warriors di PS 2 menjadi salah satu game favorit. Waktu itu, saya sangat terkesan dengan game DW yang sangat epik dan berlatar sejarah besar. Di game ini saya bisa memilih jenderal favorit, masuk ke medan perang, dan menumbangkan ratusan musuh sendirian dengan jurus-jurus yang terasa luar biasa.
Dari hobi memainkan game ini, saya sampai mengoleksi buku-buku cerita Tiga Kerajaan walaupun tidak lengkap.
Dari sudut pandang pecinta game, film Dynasty Warriors terasa cukup berhasil. Meski penggambaran sosok Guan Yu dan Zhang Fei terasa kurang tinggi besar seperti di game, selebihnya banyak adegan terasa sangat familiar, seperti visualisasi langsung dari gameplay Musou. Satu jenderal melawan puluhan prajurit, senjata sakti, kekuatan yang nyaris supranatural, dan kemunculan Lu Bu sebagai figur “boss” yang menakutkan—semuanya terasa sangat khas DW. Adegan yang bagi penonton umum mungkin dianggap berlebihan, bagi saya justru terasa wajar dan sesuai dengan dunia game yang memang sejak awal hiperbolik dan tidak realistis.
Namun, jika dinilai sebagai film berdiri sendiri, kelemahannya cukup jelas. Alur cerita terasa meloncat-loncat dan seolah mengasumsikan penonton sudah mengenal karakter-karakter utama Tiga Kerajaan. Saya pribadi tidak kesulitan mengikuti karena sudah akrab dengan Liu Bei, Cao Cao, Guan Yu, Zhang Fei, dan konflik awal era tersebut. Tapi bagi penonton yang tidak punya latar belakang game atau cerita Romance of the Three Kingdoms, film ini berpotensi terasa membingungkan dan kurang membangun kedekatan emosional.
Hal penting lain yang terasa jelas adalah bahwa film ini baru sebatas awal atau pembuka cerita. Kisah besar Dynasty Warriors—seperti di gamenya—seharusnya membentang panjang, meliputi konflik antar kerajaan Wei, Shu, dan Wu. Film ini baru menyentuh fase awal konflik dan belum masuk ke puncak-puncak cerita yang paling epik. Karena itu, kesan “tanggung” sebenarnya cukup kuat, seolah film ini memang dirancang sebagai fondasi untuk kelanjutan cerita.
Apakah akan ada sekuel? Saya harap ada. Secara cerita, peluangnya sangat terbuka. Dunia Dynasty Warriors terlalu luas untuk diselesaikan dalam satu film. Namun saya paham produser tentu akan melihat realitas industri, apakah respons pasar bagus atau tidak. Jika dilihat dari kecenderungan film ini yang sangat menyasar fans game, sekuel mungkin saja dibuat jika basis nostalgia ini dianggap cukup kuat.
Pada akhirnya, bagi saya film Dynasty Warriors lebih tepat dipandang sebagai fan service visual dan nostalgia, bukan film sejarah yang utuh. Ia jauh dari sempurna, , apalagi dibandingkan film Red Cliff. Tetapi sebagai pembuka dan adaptasi yang cukup setia pada rasa gamenya, film ini masih memberikan hiburan—terutama bagi mereka yang pernah merasakan serunya Dynasty Warriors di PS2 pada masa muda. [Asso]