bukek siansu meniup seruling

Jika kita menggabungkan seluruh jagat cerita silat yang ditulis pengarang-pengarang yang populer di Indonesia, baik pengarang Indonesia maupun yang berasal dari negeri Tiongkok, siapakah pendekar yang paling sakti?

Tentu tidak adil membandingkan kesaktian para pendekar dari berbagai jagat pengarang yang berbeda, karena setiap jagat memiliki logika kesaktian yang berbeda. Tapi ini sekadar iseng saja.

Dari berbagai cersil yang pernah saya baca, tanpa ragu saya menyimpulkan bahwa pendekar paling sakti di seluruh jagat dunia persilatan adalah Bukek Siansu dari cersil karangan Kho Ping Hoo. Ketinggian dan kedalaman ilmunya tak terukur. Dalam berbagai aspek, seperti teknik silat, tenaga dalam, meringankan tubuh, filsafat, spiritualitas, hingga sastra dan musik yang digunakan untuk bertarung, Bukek Siansu telah mencapai puncaknya. Biarpun seluruh pendekar papan atas dunia persilatan bersatu untuk melawannya, Bukek Siansu yang akan menang, dan ini terbukti dalam berbagai sesi pertemuan di sepanjang cerita yang menampilkan sosok Bukek Siansu.

Bukek Siansu muncul di lima cerita silat, berjudul Bukek Siansu, Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, dan Istana Pulau Es. Lima cerita ini menempuh rentang waktu yang panjang sekitar empat abad, dari zaman dinasti Tang (tahun 700-an) sampai dinasti Song (tahun 1100-an). Jadi Bukek Siansu memiliki usia yang sangat panjang, yaitu sekitar 380 tahun, suatu usia yang melampaui kategori manusia.

Bukek Siansu sendiri berarti “guru suci yang tidak terkalahkan”, dan sering dijuluki “manusia dewa”. Levelnya memang sudah mencapai tingkat dewa atau setengah dewa, seperti dari umurnya yang sangat panjang dan beberapa kali diceritakan mampu kali mengetahui hal-hal yang terjadi di tempat yang jauh.

Bukek Siansu mencapai tingkat itu berkat bakatnya yang sudah tampak sejak masih kecil, bacaan filsafat dan sastranya yang sangat luas, hingga latihannya yang sangat keras. Waktu kecil, ia dijuluki Sin Tong atau anak ajaib. Dia telah menguasai ilmu pengobatan saat masih kecil. Tanpa ada yang membimbing, waktu kecil dia sudah berlatih hawa murni setiap malam di bawah cahaya bulan. Dia diperebutkan para tokoh utama rimba persilatan untuk dijadikan murid. Hingga akhirnya dia menjadi murid dari raja pulau Es yang memiliki ilmu sangat tinggi dan dibawa ke pulau Es.

Bukek Siansu tinggal di Pulau Es. Setiap musim semi, ia datang ke daratan besar dan orang yang beruntung bertemu dengannya dapat menerima ilmu darinya, entah dia dari aliran lurus atau sesat. Jadi Bukek Siansu sudah melampaui kategori baik dan buruk. Bukek Siansu menjadi guru dari para pendekar sakti yang lahir sesudahnya, antara lain Suling Emas, Mutiara Hitam, Koai Lojin, hingga para tokoh golongan hitam. Dan usia Bukek Siansu mencapai ratusan tahun, ada yang menghitung mencapai 380 tahun lebih (bisa dibaca di sini).

Berikut beberapa kemampuan Bukek Siansu yang ditunjukkan dalam cerita:

  • Menguasai ilmu lawan hanya dengan sekali lihat dan menggunakannya dengan lebih baik. Ini dilakukannya saat memberikan petunjuk kepada sejumlah tokoh papan atas yang berkumpul di Perguruan Hoasan. Ini saat Bukek Siansu masih muda.
  • Mengalahkan puluhan pendekar papan atas hanya dengan berdiri diam. Semua pukulan lawan mengenai tubuhnya namun semua bagaikan terserap ke dalam air yang dalam.
  • Tidak mempan diracun.
  • Mempengaruhi ribuan prajurit hingga semua diam tak bisa bergerak hanya dengan sedikit ucapan.
  • Ilmu meringankan tubuh sudah mencapai taraf terbang, bahkan sambil membawa orang lain.
  • Mengatasi rintangan alam yang besar, antara lain menolong para nelayan yang diserang badai di laut
  • Mengetahui kejadian di tempat yang jauh tanpa ada yang memberi tahu, antara lain dia tahu di mana adiknya berada dan tahu di mana pusaka pulau es disimpan.
  • Secara spiritual, sudah mencapai taraf tidak lagi terikat dengan hasrat duniawi, tidak ada benci dan dendam, hanya cinta kasih kepada sesama manusia.

Di dalam cersil Kho Ping Hoo, tidak ada tokoh lain yang mendekati kemampuan Bukek Siansu. Dia adalah guru dari para pendekar top di zamannya hingga ratusan tahun.

Bagaimana jika dibandingkan tokoh terhebat dari jagat cersil lain?

Di jagat Chin Yung, pendekar paling sakti adalah Biksu Penyapu (Sweeper Monk) dalam cersil Demi Gods and Semi Devils (Pendekar Negeri Tayli). Namun kesaktiannya masih manusiawi, misalnya saat beradu tenaga dengan Xiao Feng, dia masih perlu mengerahkan tenaga juga. Beda dengan Bukek Siansu yang meskipun diserang puluhan pendekar papan atas, cukup diam saja sambil tersenyum tapi semua orang itu terpental sendiri.

Di jagat Khu Lung, kesaktian para pendekar papan atasnya juga masih relatif seimbang satu sama lain, tidak ada yang sangat jauh di atas lawan-lawannya.

Di jagat Wiro Sableng, tokoh-tokohnya punya banyak ilmu yang aneh-aneh bin ajaib, mendekati logika di cerita fantasi (xianxia). Mungkin yang paling sakti adalah Ki Gede Tapa Pamungkas, guru dari Sinto Gendeng, atau kakek guru dari Wiro Sableng. Akan sulit membandingkan dengan kesaktian di jagat Kho Ping Hoo atau Chin Yung dan Khu Lung, tapi saya kira Ki Gede Tapa Pamungkas masih kalah daripada Bukek Siansu.

Di jagat Seno Gumira Aji, yang hanya sedikit menulis cerita silat, sudah tentu yang paling sakti adalah Pendekar Tanpa Nama dalam cersil Naga Bumi. Dia bisa menguasai ilmu lawan dalam sekali lihat dengan jurus bayangan cermin, dan punya andalan jurus tanpa bentuk yang melampaui semua jurus di dunia. Mungkin akan sangat menarik jika tokoh ini bertarung dengan Bukek Siansu, tapi saya masih mengunggulkan Bukek Siansu karena levelnya yang sudah setengah dewa.

Demikian. []

  • Cersil Bukek Siansu dan karya lainnya dari Kho Ping Hoo dapat diunduh di SINI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *