bobibos

Akhir-akhir ini rakyat Indonesia sedang diberi harapan besar dg munculnya bobibos, bahan bakar yg konon lebih murah dg oktan 98 dan dikatakan berasal dari bahan jerami.

Saya tanya ChatGPT, apakah mungkin membuat bensin dr bahan jerami dengan kualitas lebih baik dr bensin minyak bumi? Jawabnya secara teknis mungkin, tapi untuk skala massal terlalu banyak tantangan yg dihadapi, terutama dari sisi keekonomian. Katakanlah pemerintah mendukung penuh, tapi secara hitungan bisnis belum tentu masuk. Klaim harga bisa lebih murah itu mungkin untuk skala kecil, tapi untuk skala besar senasional akan sangat sulit.

Sebagai gambaran, menurut ChatGPT, untuk membuat 1 liter bensin dari bahan jerami, dibutuhkan sekitar 5-7 kg jerami kering, yang ini volumenya sekitar 1 karung jerami.

Bayangkan jika ingin membuat jutaan liter, atau sesuai kebutuhan rata-rata masyarakat Indonesia yaitu 100 juta liter bensin per hari, berarti butuh 100 juta karung jerami kering per hari. Stok jerami di Indonesia, jika seluruhnya dipakai untuk bobibos, belum cukup untuk 10%-nya saja, yang itu pun sudah mencapai 10 juta karung jerami kering per hari. Belum lagi jerami itu juga banyak dipakai untuk kebutuhan lainnya oleh petani, seperti untuk pakan ternak dan kompos.

Jadi tantangan utamanya ada di penyediaan stok bahan jerami kering. Untuk skala komersial, tentu stok bahan harus terjaga stabil setiap saat.

Lalu tantangan berikutnya, seandainya stok tersedia, bagaimana mengangkut jutaan karung jerami kering ini ke pabrik bobibos. Akan butuh truk pengangkut dan tempat penyimpanan sementara yang banyak sekali, karena bahan baku jerami tersebar di berbagai tempat, dan umumnya sawah itu berada di tempat yang jauh dan sulit diakses kendaraan roda empat.

Dan bagi para petani sendiri, ada kesibukan tambahan yaitu mengeringkan jerami sebelum mengirimkannya ke pengepul jerami. Jerami itu ketika dipotong untuk memanen padi, kondisinya masih hidup dan basah. Butuh waktu, energi, dan biaya untuk mengeringkannya hingga kadar tertentu. Dan ketika sudah kering pun, ternyata harga satu karungnya tak cukup untuk beli setengah liter bensin.

Atau jika pengepul menerima jerami basah, sudah tentu harganya jauh lebih murah lagi dibanding jerami yang sudah kering. Mendingan dibakar saja, ketahuan bisa menyuburkan tanah.

Dari sisi ini saja, terlihat secara teknis keekonomian akan sulit untuk dijalankan.

Jadi saya ragu dengan antusiasme yang muncul di media massa dan media sosial ttg bahan bakar alternatif bobibos. Sudah terlalu sering masyarakat Indonesia diberi harapan palsu. Mari realistis saja. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *